Proses Operasi Sesar/ Cesarean Section

Assalamu’alaykum wr.wb

Proses Operasi Sesar. Wow! Topik ini insha Allah akan saya bahas sekarang berdasarkan pengalaman saya tentunya. Sudah saya sampaikan di artikel sebelumnya bahwa saya qadarullah melahirkan bayi saya, Emyr, dengan jalan operasi sesar. Apa yang terjadi saat itu?

Setelah kepulangan saya dari dokter kandungan yang biasa saya kunjungi, saya dan suami sebetulnya masih bingung mau ngambil keputusan seperti apa. Terutama saya, tokoh utama, hihi.. Galau banget pokoknya! Memang betul, saat di ruangan dokter, kami memberi jawaban bahwa keputusan kami adalah bersalin normal dengan induksi. Tapi sebenarnya saya masih bingung. Mengingat peluang keberhasilannya kecil, saya pribadi ga mau kalau udah induksi, ujung-ujungnya sesar.

Seperti petunjuk dokter, kami pun pergi ke TMC untuk pemeriksaan detak jantung anak bayi dalam kandungan. Jika bagus hasilnya, maka saya boleh bersalin secara normal dengan induksi. Lalu hari itu juga boleh langsung pergi ke RS pilihan. Jika kondisi tidak memungkinkan, maka solusinya adalah operasi sesar. Bada ashar waktu itu, dan saya menjalani ini itu menunggu isya sambil berpikir keras.

Menuju Rumah Sakit

Isya pun tiba, namun saya masih belum memberikan jawaban. Sedangkan kami harus segera meluncur ke RS pilihan kami, Syifa Medina. Tanpa memberi jawaban, kami pergi menuju RS dengan berbagai perlengkapan yang sudah saya siapkan dari jauh hari.

Ketika sampai di Rumah Sakit dengan rujukan dari dokter, kami ditanya tentang penggunaan asuransi kesehatan. Sebenarnya saya mempunyai dua asuransi kesehatan dan keputusan kami adalah dengan memanfaatkan layanan BPJS kesehatan. Tiba di ruang BPJS kesehatan RS tersebut, ada seorang pegawai wanita menyambut lalu menjelaskan secara terperinci mengenai hal ikhwal berkaitan persalinan saya. Saat itulah saya memutuskan untuk mengambil cara bersalin dengan operasi. Semua biaya tercover termasuk biaya perawatan bayi karena keesokan hari setelah bayi lahir, suami langsung mendaftarkan Emyr BPJS. Jadi saya hanya mengeluarkan untuk ikut program kb saja.

Rencana awal adalah bersalin normal diinduksi. Dokter menyarankan untuk masuk RS kira-kira setelah isya kemudian saat shubuh tiba, proses melahirkan akan dimulai. Berhubung rencananya berubah, yang lain pun ikut berubah, termasuk dokter yang akan mengambil tindakan.

Saya sampai di RS sekitar jam 08.00 malam. Setelah semua urusan di bagian pendaftaran selesai, termasuk baca-baca dan tanda tangan persetujuan yang berkaitan dengan persalinan dan tindakan operasi, saya digiring ke IGD. Di sanalah drama di mulai! Huhu. Perawat dan bidan menghampiri saya, mengajukan sejumlah pertanyaan dan memeriksa kondisi saya.

Deng!

Sejurus kemudian, saya berubah penampilan karena sudah mengenakan pakaian operasi sebagai persiapan proses operasi sesar nanti. Tangan pun sudah tak bebas bergerak karena jarum infus sudah terpasang rapi. Yang paling menyebalkan adalah benda apa lah itu namanya, pokoknya si selang pipis. Ada lagi yang lebih mengejutkan! Operasi akan dilaksanakan jam 10.00 malam alias dua jam kemudian. Ini sih semacam “teu ngarenghap heula” hehe.. Saya sudah mepersiapkan hati dan pikiran saya untuk jam shubuh, dan yang terjadi adalah eng ing eng.. proses operasi sesar dilaksanakan dua jam kemudian.

Kaget! Deg degan! Namun ada perasaan senang yang menggelitik. Di sampingku, suami terus berdiri dan mengajakku bicara. Dia bilang, “hore! Dua jam lagi bisa lihat wajah ade bayi, mirip siapa ya?”. Saat itu sikap suami benar-benar tenang, malah banyak bercanda dan terlihat antusias menyambut kelahiran anak bayi. So do I. Saya pun menjadi tak sabar melihat bayi kami, perasaan tak sabar bercampur senang dan sedikit cemas serta perasaan lainnya yang sulit dijelaskan.

Jam 10.00 malam, saya dibawa ke ruang operasi ditemani suami dan keluarga. Saat di ruang tunggu, suami tetap di samping saya, memegang tangan saya, dan sesekali mengusap kepala saya. Orang-orang berusaha menenangkan saya yang sebenarnya saat itu hati saya sudah ikhlas, pasrah kepada Allah SWT, tenang sekali. Lalu perjuangan sebenarnya tiba. Saya masuk ruang operasi.

Proses Operasi Sesar

Seseorang berpakaian hijau, bertutup kepala dan bermasker itu megajak bicara saya, mengingatkan untuk tetap berdo’a. Tenang sekali, ikhlas, tak ada rasa khawatir, dan saya siap sepenuhnya. Sesungguhnya ini anugerah Allah swt, yang membuat saya merasa tenang dan damai. Sangat berbeda dengan ketika saya menjalani kuret tempo hari, detak jantung saya tak karuan. Kali ini, sangat berbeda. Sebelum dilakukan pembiusan, seseorang berpakain hijau itu tetap mengajak bicara saya. Lalu posisi saya dibuat duduk. Burrrr! Seseorang menyemprotkan sesuatu yang dingin di punggung saya, kemudian seperti ditusuk jarum di bagian punggung bawah. Entah apa itu, namun setelahnya saya ditanya, “masih bisa digerakkan kakinya?” Saya jawab, “ngga”. Lalu saya disuruh mengangkat kaki saya, “coba angkat kakinya”. Lalu saya berusaha sekuat tenanga mengangkat kaki dan teeeeet..ga inget apa-apa. Saat itulah proses sayat menyayat, bongkar membongkar dilaksanakan, hehe.. Saya tak sadarkan diri.

Masih dalam ruang operasi, saya bisa membuka mata saya, namun masih terasa sedikit “ngantuk”, hehe.. Saya mendengar orang-orang berbicara, melihat bebarapa orang berseragam hijau, dan melihat alat-alat “aneh” di sekitar saya. Tepat di hadapan saya, terbentang hijab/ kain berwarna hijau yang membentang membatasi pandangan saya. Saya pikir operasi masih berlangsung, entah tahap apa itu, tapi saya kira itu tahap penyelesaian.

Seseorang datang tiba-tiba, menghampiri saya. “Bu, ini bayinya! Berat badannya 4 kg tinggi badan 55 cm”. Saya bahagia sekali, “Alhamdulillah”. Lalu saya mencium bayi itu dan bayi dibawa pergi.

Setelah menunggu dari balik hijab hijau dengan keadaan yang masih mengantuk, akhirnya operasi selesai. Saya kira akan banyak darah di pakaian saya, tapi ternyata tidak. Saya keluar dari ruang operasi dengan kondisi dimana kaki saya terasa hilang, hehe.. Masih dalam pengaruh obat bius, saya tidak bisa menggerakan kaki saya.

proses operasi sesar

Pasca Operasi

Saya melihat anggota keluarga menanti disana. Suami pun menyambut saya keluar dari ruang operasi. Anehnya, suami saya tampak tak setenang sebelum operasi dilakukan. Nada bicaranya tegang sekali. Sebelum apa-apa dia memegang kepala saya lalu mngecup kening saya, dan nyerocos  tentang kedaan kami, aku dan bayi. Mungkin itu ekspresi syukurnya dia ya, seperti saya yang saat itu sangat bersyukur sekali.

Pasca operasi, saya disuruh untuk tidak bergerak, tidak mengangkat punggung saya selama 12 jam. Menoleh ke kiri dan kanan diperbolehkan. Jika dalam 12 jam itu kaki sudah bisa digerakan maka saya dianjurkan untuk sesekali menekuk kaki, miring kiri dan kanan, asal punggung tak terangkat. Demi keselamatan bersama, hehe, saya ikuti petunjuk tersebut. Jangan khawatir! Don’t worry be happy! Selama 12 jam itu, beberapa jamnya saya pakai tidur kok, hehe. Inilah kelebihan operasi di malam hari. Bahkan setelah bangun di pagi hari, saya masih terkantuk-kantuk. Sedikit-sedikit mengantuk, ini karena efek bius semalam. Alhamdulillahnya saya tidak merasakan pegal-pegal badan walaupun dalam posisi berbaring selama 12 jam itu.

 

Baca juga: Persiapan Melahirkan Anak Pertama Secara Caesar

Demikian proses operasi sesar dari pandangan pasien berdasar pengalaman saya. Kalau proses pengoperasiannya seperti apa, Allah swt, para malaikat dan tim dokter lah yang tahu, hehe. Semoga bermanfaat bunda. 🙂

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

error: Content is protected !!