Persiapan Melahirkan Anak Pertama Secara Caesar

Persiapan melahirkan anak pertama secara caesar merupakan hal yang harus diperhatikan dengan seksama oleh calon ibu dan pasangan.

persiapan melahirkan anak pertama secara caesar

Assalamu’alaykum wr.wb..

Sahabat pembaca yang semoga dalam lindungan Allah swt, saya akan berbagi pengalaman tentang persiapan melahirkan berdasarkan pengalaman saya sendiri. Jadi dalam tulisan ini, semua berasal dari pengalaman pribadi yang tidak dapat dijadikan  acuan 100%.

Alhamdulillah, atas rahmat Allah swt saya dipercaya menjadi seorang ibu. Ibu muda ga ya? Mengingat usia saya kini tak lagi muda, hehe… Yang jelas bayi yang Allah titipkan ini merupakan anak pertama saya dari kehamilan kedua yang saya lalui.

Usia bayi saya saat ini adalah dua bulan. Dia lahir hari Senin, tanggal 25 September 2017 malam hari dan ayahnya menamai bayi kami Emyr. Emyr merupakan nama yang tiba-tiba muncul begitu saja di hari-hari terakhir menuju HPL. Sebelumnya, kami terbiasa memanggil bayi kami Khasyi selama ia masih ada di rahim saya. Sampai-sampai ketika sudah lahir, saya memanggil bayi kami dengan nama Khasyi hingga beberpa kali.

Cara persalinan seperti apa yang saya inginkan?

Tentu saja persalinan normal 🙂

Cara persalinan apa yang saya lalui?

Qadarullah, saya menjalani bedah sesar atau cesarean section 🙂

Diluar dugaan, persalinan Emyr dengan cesarean section. Untuk beberapa saat sebelum mengambil keputusan itu, saya sempat gamang binti cemas alias galau. Kita tahu sendiri, bedah sesar ini termasuk operasi besar. Saya ingat betul bagaimana menegangkannya masuk ruang operasi ketika pada kehamilan sebelumnya dimana saya harus menjalani proses kuretase.

Apa cesarean section itu? Dari wikipedia, Bedah sesar (bahasa inggris: caesarean section atau cesarean section dalam Inggris-Amerika), disebut juga dengan seksio sesarea (disingkat dengan sc) adalah proses persalinan dengan melalui pembedahan di mana irisan dilakukan di perut ibu (laparatomi) dan rahim (histerotomi) untuk mengeluarkan bayi.

 

Apa yang terjadi sehingga saya menjalani sc padahal sebelumnya segala sesuatunya baik-baik saja?

Di minggu ke 37 kehamilan, posisi bayi dalam kandungan sudah bagus. Dan di usia ini, bayi sudah siap untuk dilahirkan. Kemudian dokter menyarankan untuk tetap berjalan kaki di pagi dan sore hari. Kepala bayi sudah masuk panggul, ini luar biasa. Bidan pun berkata demikian, katanya, saya hanya nunggu waktu mulas menjemput. Saya semakin optimis dong untuk melakukan persalinan secara normal.

Hpl sang bayi bertepatan pada tanggal 20 September 2017. Hari-hari sebelum itu merupakan penantian panjang dengan dihiasi perasaan yang campur aduk sulit digambarkan. Hingga sampai pada tanggal 20 September, rasa mulas atau apapun itu tanda-tanda yang menunjukan akan segera melahirkan tak kunjung datang. Untuk mewaspadai hal tersebut. Esok harinya saya dan suami segera memeriksakan kandungan saya, berharap semua tetap baik-baik saja.

Sayang sekali dokter kandungan yang biasa memeriksa kandungan saya sedang keluar kota. Sehingga saya memaksakan untuk mencari dokter kandungan lain walaupun bukan dokter perempuan, karena saya khawatir dengan keadaan bayi dalam kandungan. Alhamdulillah jam praktiknya masih bisa saya ikuti. Hasil pemeriksaannya menunjukan kondisi bayi, termasuk posisi dan cairan ketuban masih bagus. Akan tetapi perkiraan berat badan bayi cukup besar, yaitu 3,5kg.

Melihat kondisi saya, bayi saya dan mengingat hpl yang sudah lewat, dokter pun tanpa basa basi bilang, “ini sih harus segera dilahirkan. Bb bayi besar, hpl sudah lewat, kalau menurut saya mau nunggu apa lagi?” Tentu saja aku masih bisa ngebantah dan ga setuju. “Ga bisa nunggu lagi dok? Kan waktu normal masih ada dua mingguan lagi?” Masih sama, dokter menyarankan untuk segera dilahirkan. “Kalau dinanti-nanti bb bayi bisa bertambah lagi, nanti kita induksi. “

Dokternya tegas banget, bikin saya galau seketika, hehe. Saya ingin melahirkan normal tanpa induksi. Sepulang dari dokter kandungan itu, saya dan suami berpikir keras mengenai bagaimana kami menghadapi situasi ini. Saya sebagai tokoh utama, cieee.. masih belum puas dengan jawaban dokter kandungan yang pertama kalinya saya kunjungi di penghujung kehamilan. Sehingga memutuskan untuk menunggu kepulangan dokter kandungan yang sudah biasa saya kunjungi, rasanya lebih percaya dan terasa ada ikatan aja sama beliau. Walaupun dokternya nggak, hiks.

 

Baca juga: Seputar Nifas, Muslimah Wajib Tahu!

 

Doa dan Penantian

Selama menunggu kepulangan dokter kandungan saya yang sedang ke luar kota selama tiga hari, saya, suami dan keluarga tak henti-hentinya untuk berdoa dan mencari berbagai informasi mengenai induksi. Kami pun bertanya kepada saudara dan teman-teman yang melakukan persalinan dengan bantuan seperti induksi. Ternyata kakak perempuan saya pun diinduksi, tapi setelah pembukaan ke…sekian (saya lupa) baru diinduksi. Sedangkan kebanyakan dari mereka yang diinduksi tanpa mulas terlebih dahulu atau yang kelelahan, biasanya berakhir dengan sc atau bedah sesar. Wow!

Hari periksa akhirnya tiba. Saya dan suami sepakat akan mengikuti saran dari dokter. Hasilnya sama seperti dari dokter sebelumnya, apalagi hari itu perkiraan bb bayi sudah bertambah menjadi 3,8 kg. Hanya saja saya lebih banyak bertanya dan lebih terbuka. Melihat pengalaman orang lain, saya memberanikan diri bertanya, “dok, peluang keberhasilan persalinan diinduksi dengan melihat kondisi saya bagaimana?” Dokter seperti ragu untuk mengatakan pendapatnya. Dengan nada berat hati dokter menjawab, “peluang berhasilnya kecil.” Lalu saya meyakinkan, “50:50 dok?” Jawaban dari dokter adalah jauh di bawah itu. Artinya keberhasilan persalinan normal dengan induksi ini peluangnya kecil, lalu pada akhirnya sc adalah solusi. Namun dokter tetap mengembalikan pilihannya kepada saya.

 

Persiapan melahirkan yang terlewatkan

Banyak sekali artikel yang berisi hal-hal apa saja yang harus dipersiapkan untuk proses melahirkan. Dari mulai persiapan mental hingga persiapan perlengkapan bayi dan ibu untuk dibawa ke rumah bersalin. Saya tidak akan membahas hal tersebut. Hal-hal yang ingin saya sampaikan adalah hasil renungan dan evaluasi diri pasca melahirkan dengan sc.

Pertama

Ternyata, ada beberapa hal yang saya sepelekan atau bahkan terlewatkan ketika sedang mengandung. Pertama adalah persiapan melahirkan dengan berolah raga. Dokter, bidan, keluarga dan teman-teman menyarankan untuk rajin berolah raga, tentu saja yang sesuai untuk ibu hamil. Namun, entah sibuk atau malas, saya mengakhirkan aktivitas baik tersebut hingga ke trimester tiga. Padahal olah raga merupakan rutinitas yang baik bagi kesehatan ibu dan bayi. Bahkan beberapa diantaranya ada yang membantu mendorong ke jalan lahir hingga memicu kontraksi. Sebaiknya berolahragalah selama kehamilan, jangan diakhirkan. Terutama bagi ibu hamil yang aktivitas sehari-harinya jarang bergerak. Dengan catatan, kehamilanmu baik-baik saja tanpa ada komplikasi apapun.

Kedua

Persiapan melahirkan kedua yang terlewatkan adalah mengorek informasi sebanyak-banyaknya tentang proses persalinan. Saya hanya wanita biasa yang menginginkan persalinan normal seperti wanita pada umumnya. Banyak yang bilang kalau melahirkan dengan cara normal, ibu sudah merasakan menjadi wanita sejati. Semakin semangat lah saya untuk mengambil pilihan persalinan normal. Padahal, mereka para wanita lain yang tidak melahirkan anaknya dengan persalinan normal pun adalah seorang ibu. Ia juga mengandung selama sembilan bulan, berjuang dengan doa dan usaha sebaik mungkin menyelamatkan anaknya hingga ia terlahir dengan sempurna. Yang terpenting adalah bagaimana ia menjadi istri bagi suami sekaligus ibu bagi anak-anaknya kemudian. Itu sih menurut saya, karena saya persalinannya dengan bedah, hehe..

Ketika saya masih mengandung, saya pun mencari informasi mengenai persiapan melahirkan, khususnya persalinan dengan normal. Segala informasi tentang persiapan mental, proses atau tahapan persalinan hingga tanda-tanda akan bersalin semuanya saya pelajari. Namun hanya yang berkaitan dengan persalinan normal sesuai dengan apa yang saya inginkan. Disini lah satu poin terlewatkan. Manusia hanya berencana, apabila taqdir berkata lain, kita hanya bisa bertawakal seraya tetap berdoa. Sebaiknya dari jauh-jauh hari pelajarilah semua proses persalinan, baik itu yang alami, normal dengan bantuan atau dengan operasi.

Persiapan bersalin normal dengan operasi tentu saja berbeda. Jangan seperti saya, serba dadakan. Saya tidak tahu tentang apa saja yang harus saya bahas sebelum operasi dimulai. Sebaiknya hal ini dibicarakan secara mendetail sebelum operasi dilaksanakan. Poin-poin penting seperti pembiusan, imd, imunisasi, alat kontrasepsi dan lain sebagainya. Karena mungkin dari pihak rumah sakit hanya menjelaskan secara umumnya saja. Jangan sampai serba dadakan seperti saya dan dilanda kebingungan setelahnya.

Jadi itulah persiapan melahirkan yang terlewatkan, semoga pengalaman saya dapat meningatkan dan menjadi masukan buat bunda semuanya. Terimakasih 🙂

 

Wassalamu’alaykum

 

 

 

 

https://id.wikipedia.org/wiki/Bedah_sesar diakses Senin, 27 November 2107.

Mungkin Anda juga menyukai

1 Respon

  1. 29 November 2017

    […] Persiapan melahirkan ana… […]

Tinggalkan Balasan

error: Content is protected !!